
Dokumentasi foto bersama dosen Pendidikan Bahasa Inggris didampingi Dekan FKIP dengan Ketua Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh.
Bireuen – Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim terus memperkuat jejaring kemitraan dalam mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa yang adaptif terhadap kebutuhan global. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Almuslim dengan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh yang berlangsung pada Minggu, 7 Juni 2026, di Aula Creative Center MA Jangka.
Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan oleh Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Almuslim, Zuraini, S.Pd., M.Pd., yang diwakili oleh Dosen Pendidikan Bahasa Inggris dengan pihak ISBI Aceh yang diwakili oleh Dr. Angga Eka Karina, S.Pd., M.Sn., selaku Ketua Jurusan Seni Pertunjukan. Kegiatan tersebut turut disaksikan langsung oleh Dekan FKIP Universitas Almuslim, Dr. Sari Rizki, M.Psi.
Kerja sama ini difokuskan pada penyelenggaraan English Arts and Cultural Festival yang mengusung tema “Empowering Creative, Communicative, and Culturally Responsive English Learners for Global Competitiveness.” Tema tersebut mencerminkan komitmen kedua institusi dalam mendorong lahirnya mahasiswa yang kreatif, komunikatif, memiliki kesadaran budaya, serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Dekan FKIP Universitas Almuslim, Dr. Sari Rizki, M.Psi., menyambut baik terjalinnya kolaborasi tersebut. Menurutnya, penguasaan bahasa Inggris pada era globalisasi tidak hanya terbatas pada kemampuan linguistik semata, tetapi juga harus dibarengi dengan pemahaman budaya, keterampilan komunikasi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan dunia kerja yang semakin dinamis.
Ia menilai bahwa sinergi antara Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dan ISBI Aceh merupakan langkah strategis dalam menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual bagi mahasiswa. Melalui kegiatan yang memadukan bahasa, seni, budaya, dan pariwisata, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kompetensi yang lebih komprehensif.
Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Almuslim, Zuraini, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk memperluas ruang pengembangan kompetensi mahasiswa melalui berbagai kegiatan akademik dan nonakademik yang relevan dengan kebutuhan dunia global saat ini.
Menurutnya, English Arts and Cultural Festival menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan komunikasi berbahasa Inggris melalui berbagai kegiatan kreatif seperti pertunjukan seni, presentasi budaya, public speaking, drama, hingga promosi wisata dan budaya lokal dalam bahasa Inggris.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengimplementasikan kemampuan berbahasa Inggris dalam konteks nyata. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa dapat belajar menjadi komunikator yang baik sekaligus duta budaya yang mampu memperkenalkan kekayaan lokal kepada masyarakat internasional,” ujarnya.
Berdasarkan perjanjian kerja sama yang telah disepakati, tujuan utama kolaborasi ini adalah mengembangkan kompetensi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris dalam bidang komunikasi berbahasa Inggris, seni, budaya, serta pariwisata halal melalui kegiatan yang kreatif, inovatif, dan berwawasan global. Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung pencapaian capaian pembelajaran lulusan serta menghasilkan lulusan yang profesional, komunikatif, dan memiliki daya saing tinggi.
Ruang lingkup kerja sama mencakup penyelenggaraan English Arts and Cultural Festival sebagai sarana pengembangan kompetensi mahasiswa, penguatan kemampuan komunikasi berbahasa Inggris melalui pertunjukan seni dan budaya, serta peningkatan pemahaman mahasiswa dalam bidang English for Halal Tourism, promosi budaya lokal, dan komunikasi lintas budaya dalam konteks pariwisata berkelanjutan.
Selain itu, kedua institusi juga akan berkolaborasi dalam pembinaan minat dan bakat mahasiswa, pengembangan kreativitas, peningkatan kemampuan public speaking, serta penyediaan narasumber, pelatih, fasilitator, praktisi bahasa Inggris, praktisi seni budaya, dan praktisi industri pariwisata.
Kerja sama tersebut juga mendukung pelaksanaan berbagai mata kuliah yang relevan di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, seperti English for Halal Tourism, Cross-Cultural Understanding, English for Specific Purposes (ESP), English for Communication, Drama and Performing Arts, Translation and Interpretation, serta mata kuliah lainnya yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi mahasiswa.
Melalui kolaborasi ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya promosi budaya lokal melalui media dan komunikasi berbahasa Inggris. Kemampuan tersebut dinilai penting dalam mendukung pengembangan sektor pariwisata daerah sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya Aceh kepada masyarakat global.
Dalam pelaksanaannya, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris bertanggung jawab terhadap perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi kegiatan serta koordinasi keterlibatan mahasiswa dan dosen. Sementara ISBI Aceh akan memberikan dukungan berupa fasilitas, narasumber, juri, pelatih, fasilitator, praktisi, pendampingan, serta dukungan publikasi dan penyebarluasan informasi kegiatan.
Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah awal yang produktif dalam membangun kolaborasi berkelanjutan antara Universitas Almuslim dan ISBI Aceh. Sinergi tersebut tidak hanya memperkuat kualitas pendidikan tinggi, tetapi juga membuka peluang lahirnya berbagai program inovatif yang mengintegrasikan bahasa, seni, budaya, dan pariwisata sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda yang unggul, kreatif, berkarakter, dan mampu berkompetisi di tingkat global.
Melalui English Arts and Cultural Festival, kedua institusi berharap dapat menciptakan ruang pembelajaran yang inspiratif sekaligus memperkuat posisi mahasiswa sebagai agen promosi budaya lokal yang mampu menjembatani nilai-nilai kearifan lokal dengan kebutuhan komunikasi global di era modern.